Selasa, 21 Januari 2014
Kekuatan Cita-cita
Kekuatan Cita-cita
author : hestin novalina sitompul
“hari ini aku mendapat satu masalah lagi.. Apa kau mau membantuku? Angin begitu kencang, pasir begitu tajam, matahari terus bersinar, apa hari ini kau merasakannya?”
Sampai hari ini, aku mengucapkan kembali kalimat itu. Rasa sakit, ketakutan, penyesalan hari ini tidak sebanding dengan yang kurasakan. Apakah itu namanya pelajaran? Aku yakin dia sedang melihatku dengan tatapan anehnya, tak berekspresi, mata yang kosong oleh perasaan dunia. Mata itu meyakinkanku untuk mempunyai tujuan, walaupun sebenarnya kehilangan arah. Tapi aku yakin akan terjadi keajaiban lain, yang pernah aku alami sebelumnya.
Ketika hidupku yang sesungguhnya telah merubahku menjadi dewasa.
“Ayah... lihat foto ini.. akan sangat bagus jika foto kami dijejerkan seperti ini.” kataku sambil menyentuh kedua bingkai foto saudaraku yang telah menyelesaikan pendidikannya.
Walaupun ayah hanya diam dan mengacuhkanku, aku hanya tersenyum tetapi masih merenungi apa yang menjadi mimpiku semalam. Yogyakarta mempunyai banyak mahasiswa terpintar. Jika dalam skala, mungkin aku akan menyusut. Sangat gelap ketika berada diantara manusia seperti mereka. Tapi saat itu aku bermimpi, aku memakai pakaian putih dengan tulisanku yang kacau balau mencatat tiap keluhan semua orang.
* * *
Tinggal dua saudara, kakakku dan aku yang terakhir. Aku terus membayangkan sampai aku lupa rumus aneh itu yang berada dipapan putih. Sekolah menengah ini terlihat sangat menyeramkan. Walaupun aku berhasil meraih langkah tiap langkah, namun aku merasakan hal lain yang berkata ini bukan diriku sebenarnya.
Aku mendengar langkah kaki seseorang yang dengan santai berjalan. Di atap sekolah itu aku merenungi apa yang aku pelajari hari ini.
“apa yang harus aku lakukan?” tanyaku pada seseorang yang berada dibelakangku.
“kau merengek lagi, Virii?”
Mendengar jawaban itu, aku cukup tenang karena mendengar suara santainya. Entah kenapa tatapannya yang menakutkan, menjadi indah ketika dipandang.
“hari ini aku tidak mendapat apa-apa. Aku hanya bersaing, bukanlah belajar.” Jawabku sambil melihat dia yang duduk disampingku.
“lalu apa hadiahnya?”
“entahlah.. mungkin kesenangan, seperti bagaimana kau mendapat kebahagiaan yang orang tak bisa merasakannya.”
“jadi.. selama ini kau bersaing dan bukan menuntut ilmu? Apakah nilai itu sangat berarti untukmu?”
Aku terdiam dan kini kesunyian melanda. Suara indah burung yang berkicau terasa masuk berserentakan merasukiku.
“aku hanya ingin orangtuaku bangga.”
“melihatmu bersekolah saja mereka sudah bangga. Bukan hadiah besar yang mereka inginkan, tetapi hadiah tulus.”
Kini aku mengerti akan perkataannya. Dia benar-benar membantuku tiap aku memiliki masalah. Tanpa kuberitahu, dia pasti sudah tahu.
“Chiko... kenapa kau tidak mendapat juara umum lagi?”
Chiko terdiam. Aku cukup menyesal karena perkataanku telah membuat ketenangannya terganggu.
“untuk apa.. itu semua akan sia-sia dihidupku.”
“kenapa?”
“karena situasiku, aku tidak akan pernah bisa melakukan semuanya Virii..”
Aku tidak pernah mengerti apa yang Chiko pikirkan. Chiko seperti tidak mempunyai tujuan, namun dia tahu kemana arahnya. Dia memang benar-benar berubah sejak setahun lalu. tidak ada yang tahu apa penyebabnya, tapi dari matanya aku melihat.. dia yang lalu telah mati.
* * *
Hari ini kakakku meneleponku, seminggu yang lalu dia telah menyelesaikan pendidikannya. Aku senang karena kini dia telah mendapatkan pekerjaan. Kini aku menatap foto wisuda mereka. Hanya aku.. benar-benar aku yang masih bertempur dalam pendidikan. Pakaian mereka sangat indah, dengan topi yang talinya terulur kekanan. Ketika aku malas, aku melihat ketiga foto itu. Berjejer seperti yang aku harapkan. Entah kenapa pendidikan ini membuatku bingung. Seakan semuanya bersaing, kami bukanlah menuntut ilmu melainkan mengharapkan sebuah nilai.
Chiko benar... mungkin aku harus merubah pola berpikirku itu. Aku bersyukur semester yang lalu aku mendapat juara umum, namun.. entah kenapa aku tidak puas. Aku rasa ini bukanlah diriku.
* * *
Lima bulan kemudian.
“selamat Rena... pertahankan juaramu.” Kata wali kelasku kepada Rena salah seorang temanku.
Pagi itu aku sudah terlalu lama merasakan awan kelabu dikelas buram itu. Gelarku sebagai juara kelas kini sangat jauh dari yang aku harapkan. Entah kenapa semua yang kukerjakan dan kuanggap benar tiba-tiba jauh dari standar.
“ada apa Virii.. kenapa semua nilaimu turun?” tanya wali kelasku saat giliranku untuk menerima raport.
Aku hanya tersenyum pahit dan mengatakan suatu kebohongan kecil layaknya orang pada umumnya. Aku kembali ketempat dudukku dan menenangkan diriku.
“Virii... kelihatannya kau sudah berubah jauh. Apakah ada yang terjadi? Semenjak kau berteman dengan Chiko kelihatannya kau jadi aneh.” kata Ria, teman sebangkuku.
“kau tahu Chiko? Aku kira kau tidak tahu.”
“ya... Chiko yang mau bunuh diri dengan melompat dari jembatan, tentu saja.. dia tetanggaku.”
“bunuh diri? Apa maksudmu?”
“apa kau tidak merasakannya? Matanya yang aneh itu seakan tidak ada jiwa yang hidup lagi dari dia. Ya... setahun lalu dia adalah siswa yang pintar, tapi siapa yang tahu dia akan hancur.”
Aku cukup kaget dengan perkataan Ria, namun yang sangat membuatku kaget darinya adalah ucapan tidak manusiawinya yang begitu menyakitkan.
“apa yang kau katakan? Tidak berhak kau menjelek-jelekkan dia.” Bentakku padanya.
Ria kaget dengan bentakkanku, tak kukira dia akan berdiri dan memukul meja itu dengan keras.
“kau kira kau siapa? Sana pergi dengan teman anehmu itu. Lagipula kau hanya kami temani karena kasihan padamu. Apa kau tidak menyadarinya? Sejak kau sangat sombong dengan juara umummu itu, Tidak ada yang mau berteman denganmu. Seharusnya kau berterima kasih kepada kami karena mau menampungmu. Sekarang apakah kau sadar ketika jatuh? Sakit bukan?”
Aku terdiam. Kini semua telah terjawab atas apa yang mereka lakukan padaku. Pantas aku merasa berbeda dengan yang lainnya. Mereka selalu menatapku dengan tatapan jijik. Sungguh, aku benci dengan itu. Dalam bayanganku aku sangat ingin memukul mereka. Tapi, dalam setahun ini semua teman-temanku meninggalkanku karena sifatku yang angkuh. Aku adalah siswa baru belum menemukan jati diri. Aku rasa aku salah ketika aku mendapat juara umum. Tiba-tiba aku menganggap rendah semuanya... dan mereka menghilang.
* * *
“kelihatannya aku sudah salah. Ini bukanlah diriku.”
“lalu apa yang akan kau lakukan?”
“aku rasa.. aku harus menjadi diriku sebenarnya.”
Mendengar jawaban itu tiba-tiba Chiko tersenyum. Dia seperti sudah mengetahui tiap masalah yang aku alami.
“aku kehilangan temanku dan semua nilaiku merosot. Apakah kau mau membantuku? Apa yang harus aku lakukan?”
“Virii... ilmu bukanlah keinginan, tapi kemauan. Aku tahu keinginanmu untuk mendapat ilmu sangat tinggi, tapi jika kau belum siap semua akan sia-sia.”
“tapi semua situasi ini membuatku selalu bersaing. Ilmu bagiku adalah pertandingan.”
“namun akhirnya kau akan lupa apa yang kau pelajari. Kau hanya mengharap sebuah hadiah, bukan? Kau bilang kau ingin menjadi dokter. Jika suatu saat kau menjadi dokter, kau pasti akan mengerti bahwa semuanya akan sia-sia jika pasien itu tidak sembuh.”
Aku menatap Chiko, perkataannya kini aku anggap benar. Aku selalu menghafal tiap ilmu karena aku takut melupakannya, aku tidak mengerti semua yang aku hafal. Bagiku aku hanya ingin melihat ibuku menenteng raport diatas rata-rataku. Tapi, kini aku tahu.. aku telah salah dalam belajar.
“Chiko.. maaf aku bertanya ini. tapi... kenapa kau dulu berencana bunuh diri?”
Chiko terdiam dan kini wajahnya tertunduk, beberapa saat kemudian dia melihat langit.
“entahlah... kau masih beruntung Virii karena Tuhan memberikanmu kesempatan. Dengan keadaan ini, aku tidak bisa begitu saja melihat ibuku yang menderita karena merawatku. Aku rasa aku mau mati. Tuhan sangat jahat padaku.”
Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Chiko. Tetapi aku rasa aku harus mengatakan sesuatu sebagai pertanggungjawabanku karena mempertanyakan hal itu.
“Chiko.. kita semua manusia. Tuhan tidak akan membedakan anak-anakNya. Sama seperti situasiku, segala rencanaNya memang tidak masuk akal. Tetapi aku rasa Dia mau menyatakan sesuatu.”
Chiko tersenyum. Aku memang bukanlah konselor yang baik. Tapi aku harap dia mau memandang dunia lagi.
“terima kasih.. Virii.”
* * *
Aku adalah siswa kelas tiga. Setelah semester ini, semester berikutnya akan terasa berat. Disaat seperti ini aku masih berusaha menemukan jati diriku. Tapi perlahan-lahan rasa takut itu mulai menyebar. Tidak ada yang mengertiku disekolah. Semua teman-temanku menjauhiku. Aku rasa takutku semakin jadi. Semua mengharapkan nilai.. aku tahu itu. Tapi.. sama seperti dokter. Jika dia mengharapkan uang, apakah kesembuhan tidak berarti?
Tiba-tiba aku tersadar dalam lamunanku ketika semua murid berlarian kelapangan sekolah. Sentak aku ingin mengetahui ada apa. Tetapi aku terkejut ketika menyadari seseorang yang aku kenal berdiri hendak menjatuhkan dirinya dari atap sekolah. Aku segera berlari menaiki tangga untuk mencapai lantai tiga itu. Nafasku tersengal tetapi pikiranku terus melayang membayangkan dia. Chiko.
“Chiko.. apa yang kau lakukan?” tanyaku ketika sampai diatap sekolah mencoba mengetahui maksud dari perbuatan Chiko.
“Virii.. sungguh aku tak mengerti apa maksud dari semua ini. aku ingin hidup Virii..”
Aku tidak mengerti apa yang Chiko maksud. Namun dari isakannya aku tahu bahwa dia sangat menderita. Chiko yang selama ini menasihatiku, ternyata hidup menderita.
Segera aku menarik tangannya dan membawanya ketempat jauh dari sisi atap.
“hidupmu masih panjang. Apakah kau bodoh?” bentakku marah pada dirinya.
Chiko terdiam, dan aku terdiam. Kini dia merenungi apa yang akan dia katakan.
“aku hidup karena cita-cita.. tapi percuma jika aku tidak bisa meraihnya. Aku sudah tidak tahan ketika melihat ibuku menderita karenaku. Aku tak mau mereka semua sedih. Kini cita-citaku telah pecah dan tidak bisa tersambung lagi. Virii.. maukah kau berjanji padaku?”
Aku tak mengerti apa alasannya mengatakan seperti itu. kejadian ini terasa singkat dan tiba-tiba, tetapi baru saja Chiko mengatakan hal yang membuatku mengenal dirinya yang sebenarnya.
* * *
Sepulang sekolah aku terus merenungi semua penjelasan Chiko kepadaku. Kini aku mengerti mengapa dia menyerah pada sekolah, serta hidupnya yang tidak berarti lagi dimatanya. Aku tahu dia takut, lebih takut dari takut yang kurasakan sekarang. Kini aku mengerti hidup ini. semua ingin semuanya tercapai, tetapi mereka tidak tahu cara mereka.
Aku memandang lagi foto ketiga saudaraku. Apakah mereka juga merasakan hal seperti ini? seperti teguran kecil yang ingin diketahui oleh kita. Ada suatu perkataan yang kini menyadarkanku.. ‘anggap bahwa kau telah menerimanya, maka semua akan kau terima’. Aku rasa kalimat itu sangat berarti bagi kami, orang-orang yang merasa takut.
Janji itu selalu kupahami sebagai panggilan hidupku. Seperti menyadarkanku inilah hidup yang sebenarnya. Jika Tuhan didepanku, aku ingin mengatakan padaNya.. terima kasih karena aku masih hidup.
* * *
“Chiko.. aku punya masalah lagi. Apa kau mau membantuku?”
Aku memang mempunyai kisah hidup yang luar biasa. Janji yang kupandang sebagai panggilan hidup ternyata memang hidupku sesungguhnya. Chiko hidup karena cita-cita, dia selalu mengatakan hal itu. sampai penyakit ganas melumpuhkan cita-citanya. Chiko bilang aku beruntung, tetapi sesungguhnya aku rasa dia lebih beruntung. Walaupun kini cita-citanya tidak bisa dia wujudkan, aku berjanji padanya bahwa aku akan melanjutkan cita-citanya.
Aku melangkah dan melihat pemandangan Yogyakarta dari atap rumah sakit. Aku memasukan tanganku kedalam saku jubah putihku. Menghirup udara cita-cita yang selama ini telah kuwujudkan.
“Dr. Virii.. ayo makan siang.” Kata sahabatku yang selalu memanggil dengan panggilan sehari-hariku.
Aku mengangguk. Kini aku melangkah meninggalkan atap itu. tetapi dalam pikiranku, aku tidak benar-benar meninggalkan atap itu. karena dari sebuah atap, aku bertemu dengannya. Seseorang yang meyakinkanku untuk bisa seperti ini. chiko... selamat jalan.
“Virii... apakah kau mau berjanji padaku? Lanjutkan cita-citaku. Jadilah seorang dokter yang tidak mengharapkan nilai. Aku tahu aku tidak bisa melanjutkan cita-citaku, tapi... aku percaya padamu,Virii.. terima kasih.” –Chiko-
* * *
Langganan:
Postingan (Atom)